MITRA RISET
Statistic & Research
Konsultan Analisis Data KTI Skripsi Tesis Disertasi

Penyakit Malaria



MITRA RISET telah membantu Riset Mahasiswa dan Dosen sejak tahun 2002
Call: 0274-6411658  SMS: 0856 28 98968

1. Daya Bunuh Madu Thd Bakteri Mycobacterium Tuberculosis Resisten Reifamfisin 1. Daya Bunuh Propolis dan Royal Jelly Terhadap Bakteri Mycobacterium tuberculosis “Multi Drug Resisten” MDR) 1. Hubungan Antara Periodisitas dan Densitas Mikrofilaria pada Penderita Filariasis Bankrofti di Daerah Jawa Bagian Barat 1. Identifikasi Serotipe Virus Dengue DEN 1-4) Dengan Uji Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction 1. Pengaruh Ganggang Hijau Spirulina sp Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah Sewaktu, Peningkatan Kadar Hemoglobin, Jumlah Eritrosit dan Jumlah Trombosit Pada Responden 1. Pengaruh Penambahan Minyak Atsiri Temulawak Zingiber Oficinale Roxb) Terhadap Mutu Minyak Kelapa 2. Hubungan pH, Salinitas dan Kekeruhan dengan Densitas Larva Vektor Malaria di Perairan Lagoon Pantai Pelabuhan Ratu Sukabumi 2. Kemampuan Daya Hambat Ekstrak Tomat Terhadap Agregasi Platelet Yang Disebabkan oleh Radikal Bebas 2. Pembuatan Kit Carik Celup Pendeteksi Boraks Pijer/Bleng) Pada Makanan Denan Berbasis Ekstrak Rimpang Kunyit 2. Pengaruh Kondisi Fermentasi Terhadap Komposisi Senyawa Kimia Virgin Coconut Oil 2. Uji Invitro Aktivitas Senyawa Antimikroba Dari Bakteri Probiaotik Streptococcus Lactis Terhadap Bakteri Penyebab Infeksi Saluran Pencernaan 2. Validasi Pemeriksaan Lab Hematologi Jur Analis Kesehatan Poltteknik Kesehatan Bandung 3. EfektIvitas Larutan Providon Iodium Sebagai Bakterisida Thd Pseudomonas Aerugenosa 3. Hubungan Asupan Antioksidan Dengan Risiko Kejadian Tuberkulosis Paru 3. Nilai Asam Laktat Sebagai Indikator Kelelahan pada Pekerja Tekstil pada Akhir Tugas 3. Pembuatan dan Analisis Kualitas Bahan Kontrol Untuk Pengujian Bilirubin Total dan Direk dari Empat Jenis Empedu Untuk Mengurangi Resiko Terpapar Virus Hepatitis 3. Pengujian Daya Antioksidan Dari Beberapa Produk Sediaan Buah Merah Pandanus Conoideus) 3. Periode Proses Sporulasi Dan Pigmentasi Jamur Penyebab Dermatofitosit Yang Dikultivasi Di Laboratorium 4. Berat Badan Lahir, Status Gizi, Asupan Vitamin A dan Resiko Pneumonia Pada Anak Balita 4. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kualitas Kegiatan Posyandu di Cimahi Tahun 2006 4. Pembuatan dan Pengujian Media Perbenihan Selektif untuk Staphylococcus Aureus sebagai Alternatif Pengganti Manitol Salt Agar 4. Perbandingan Pendapatan Keluarga Dan Pengetahuan Gaki Hubungannya Degann Pola Konsumsi Makanan Keluarga Pendidikan Gaki Dan Keluarga Bukan Gaki Di Daerah Gondok Endemik 4. Uji Biokompatibilitas dan Kapasitas Penurunan Urea-N dari Dializer Polimer Sintetis dan Polimer Selulo pada Proses Hemodialisis 4. Ukuran Lingkar Pinggang dan Kadar Asam Urat Darah, serta Faktor-faktor lain yang berpengaruh 5. Akurasi Data Asupan Kalori, Zat Gizi Makro dan Mikro Pada Orang Dewasa Yang Diperoleh Dari Metode Food Recall 5. Analisis Konsumsi Antioksidan Dengan Kejadian Penyakit ISPA Pada Anak Balita di Kecamatan Cimahi Utara 5. Hubungan Antara Rasio Lemak Tak Jenuh/Lemak Jenuh Dan Rasio Total Kolesterol/Hdl Kolesterol Serta Faktor Fator Yang Mempengaruhi 5. Pengaruh Fortifikasi Fe pada Tepung Terigu Terhadap Kualitas Sifat Organoleptik dan Kadar Fe) Mie Basah 5. Pengaruh Penambahan Enzim Bromelin pada Pembuatan Virgin Coconut Oil VCO) terhadap Kandungan Medium Chain riglyceride 5. Pola Kepekaan Kuman Mycobacterium tuberculosis terhadap Obat Anti Tuberkulosis OAT) dan Identifikasi Strain Mutan yang Diisolasi dari Penderita Tuberkulosis Paru 6. Hubungan Gradasi Ketahanan Pangan, Variasi Coping Mechanism Keluarga dan Status Gizi Balita di Daerah Rawan Pangan di Kabupaten dan Kota Cirebon Jawa Barat 6. Kajian Terhadap Tingkat Akurasi Motorik Milestone dalam Pembuatan KMS Perkembangan Anak Usia 3-18 bulan 6. Pemberdayaan Possitive deviance Terhadap Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut ISPA) Pada Anak Balita di Kabupaten Bandung 2007 6. Pengaruh Pemberian Chromium terhadap Kadar Glukosa Darah Pasien DM Tipe 2 di RS Umum Unit Swadana Daerah Kabupaten Subang 6. Pengaruh Perbedaan Imbangan Tepung Tempe Dengan Tepung Kedelai Dan Tehnik Pengeringan Terhadap Kandungan Isoflavon Produk Makanan Olahan Yg Dapat Diterima) 6. Perbedaan Pengaruh Pengasapan Insektisida Malation dan Sipermetrin Terhadap Nyamuk Aedes Aegypti di Kota Bandung 7. Analisis Pemberian ASI, Kejadian Sakit dan Status Gizi Bayi Usia 0-6 bulan pada Ibu Pekerja Tahun 2004 7. Kajian Penggunaan Arm span sebagai Prediksi Tinggi Badan untuk Penetapan Status Gizi pada Kelompok Usia Lanjut 7. Pengaruh Intervensi Konseling dan Stimulasi) terhadap Perkembangan dan Status Gizi Balita di Wilayah Kota Cimahi 7. Pengaruh Pemberian Kefir terhadap efek antidiabetik pada tikus wistar hiperglikemia yang diinduksi aloxans 7. Pengaruh Pemberian Sarapan Berprotein Tinggi dan Berkarbohidrat Tinggi Terhadap Peningkatan Konsentrasi Belajar Siswa SD 7. Perbedaan Asupan Gizi dan Pola Makan Antara Anak Yang Gizi Baik Dibandingkan Dengan Anak Yang Kurang Gizi Pada Anak SD 8. Analisis Faktor-faktor yang Betrhubungan dengan Kejadian Ikterus Neonatorum di RSMM Bogor 8. Assesment Kompetensi Bidan Indonesia di Jawa Barat 8. Hubungan Jenis Diet Gluten, Jenis Diet Casein, Jenis Diet Gluten dan Casein dengan Terjadinya Gangguan Prilaku pada Anak Autisme di Yayasan Autisme Bandung 8. Pengaruh Obesitas terhadap pertumbuhan tumor Payudara Tikus Betina yang Diinduksi dengan 7,12-Dimethylbenza) anthrance 8. Pengaruh Suplementasi Kalsium Terhadap Status Densitas Tulang Pada Penderita Osteoporosis Di Poltekkes Bandung 8. Studi Determinan Perilaku Ibu Menyusui Secara Eksklusif Sampai 4 Bulan di Kota Bandung 9. Hubungan Kualitas Layanan Antenatal dengan Kepuasan Klien di Puskesmas Kota Bogor Tahun 2005 9. Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Ibu Dengan Kelengkapan Pemberian Immunisasi Pada Bayi Di Puskesmas Pamulang Kota Bandung 9. Implementasi Peran Bidan sebagai Provider di Desa di Wilayah Jawa Barat tahun 2006 9. Kompetensi Instruktur Klinik Keperawatan pada Pendidikan Program Diploma III Keperawatan 9. Pemberian Konsentrat Berbasis Protein Vitamin A dan Probiotik untuk Meningkatkan Daya Tahan Tubuh Penderita TBC Paru 9. Pola Asuh, Status Gizi dan Perkembangan Motorik Baduta Usia 3 – 18 bulan di Wilayah Cimahi Utara 10. Analisis Konsumsi Zat Gizi, Status Gizi dan Tingkat Perkembangan Motorik Kelompok Usia 3-18 bulan pada Daerah Pedesaan dan Perkotaan Bandung 10. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Bidan Dalam Penerapan Standar Pelayanan Antenatal 10. Faktor-faktor Yang Berhubungan dengan perilaku Seksual Remaja Di Kota Bogor 10. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ibu dalam Pemberian Imunisasi Polio 10. Gambaran Iklim Kerja dalam Rangka Peningkatan Mutu Pelayanan keperawatan di Ruang rawat Inap RS Swasta di Kota Bandung 10. Hubungan konsumsi bahan makanan sumber flavonoid dengnan dementia 11. Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Bidan Dalam Melaksanakan Asuhan Persalinan Normal di Kab Subang 11. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Efek Samping Pemakaian Kontrasepsi Suntikan DMPA dan Cycloprovera Pada Akseptor KB Suntik di Kabupaten Karawang Tahun 2006 11. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Konseling HIV/AIDS Oleh Bidan Pada Saat Antenantal Cara di Puskesmas Wilayah Kota Bandung 11. Hubungan antara Posisi Berbaring Miring pada Ibu Bersalin terhadap Denyut Jantung Janin 11. Hubungan Persen Lemak Tubuh, Energi Expenditure dan Usia Menarche Pada Siswi SD dan SMP Usia 9 -13 Tahun di Kota Bandung 11. Pengaruh Brain Gym Senam Otak) Terhadap Tingkat Perkembangan Anak yang Mengalami Retardasi Mental di Sekolah Luar Biasa 12. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Bidan Desa di Kabupaten Lebak Tahun 2004 12. Hubungan Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Perempuan dalam Masa Interval dalam pencarian pelayanan kesehatan karene keluhan Keputihan di desa Cipendawa kecamatan Pacet Kebupaten Cianjur Tahun 2007 12. Karakteristik Masyarakat Baduy Yang Berhubungan Dengan Perilaku hidup Sehat Kesehatan Ibu dan Anak) 12. Pengambilan Keputusan Keluarga Untuk Memilih Perawatan Alternatif Cimande) Bagi Anggota Keluarga Yang Mengalami Fraktur – Suatu Pendekatan Keperawatan Transkultural 12. Perbedaan Pengetahuan Ibu Dalam Kesiapannya Menghadapi Persalinan Anatara Ibu Yang Memperoleh Konseling Dari Bidan Yang Sudah Pelatihan Kip/K Dengan Ibu Yang Memperoleh Konseling Dari Bidan Yang Belum Mengikuti Pelatihan Kip/K Di Puskesmas Kota Bogor Tahun 2003 12. Studi Analisa Pelaksanaan Program Keluarga Mandiri Sadar Gizi KADARZI) dan Non Keluarga Sadar Gizi dan Faktor Determinan yang Mempengaruhi Tingkat Keberhasilannya di Pedesaan dan Perkotaan Propinsi Jawa Barat Tahun 2004 13. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan kejadian Infeksi Nifas di Bidan Praktik Swasta BPS) dan Puskesmas Garuda di Kota Bandung 13. Hub Antara Dukungan Suami Dengan Tingkat Kecemasan Ibu Menghadapi Persalinan Pada Primigravida 13. Hubungan Antara Pembimbing Akademik dalam bimbingan Terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa Prodi Keperawatan Se-Poltekkes Bandung Tahun 2005 13. Kontribusi Olahraga terhadap Kemampuan Kognitif Lansia di Kota Bandung 13. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Tentang Perawatan Fraktur Terhadap Kualitas Mutu Pelayanan Keperawatan Kepada Keluarga/ Klien Fraktur di Rumah Sakit PMI Kota Bogor 13. Pola Makan, Status Gizi dan Usia Awal Menstruasi Pada Siswi SMPN 5 Bandung dan Siswi SMPN 2 Padalarang 14. Efek Senam DM Dalam Mengontrol Gula Darah Pada Klien DM Tipe II di Kota Bogor Tahun 2006 14. Efektivitas Pemberian Cairan Dalam Mengurangi Resiko Kejadian Infeksi Saluran Perkemihan Pada Klien Yang Terpasang Dower Kateter 14. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Lama Persalinan Pada Primipara Di Kota Bogor Th 2003 14. Hubungan Antara Asupan Zinc dan Kejadian Anemia Ibu pada Ibu Hamil di Daerah Pantai Kab. Cirebon 14. Hubungan Antara Pengetahuan dan Sikap dengan Pelaksanaan Hidup Bersih dan Sehat PHBS) di Kec. Curug Kabupaten Tangerang Tahun 2005 14. Kejadian Abortus, Riwayat Infeksi Saluran Reproduksi dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya di Rumah Sakit Kabupaten Bogor 15. Analisis Kinerja Bidan Terhadap Kepuasan Pelanggan Pada Pelayanan Persalinan Di Rumah Bersalin Dibandingkan Dengan Rumah Sakit Pemerintah 15. Efektifitas Pasta Gigi Yang Mengandung Ekstrak Herba Echinacea Terhadap Penyakit Jaringan Periodontal 15. Hubungan Managemen Aktif Kala III Terhadap Waktu Kelahiran Placenta 15. Pengaruh Ekstrak Buah Pala Terhadap Proses Penyembuhan Ulser Pada Pasien Penderita Stomatitis Apthosa 15. Pengaruh Konsumsi Permen Yang Mengandung isomalt dan Zinc Sitrat terhadap pertumbuhan plak 15. Pengaruh Pengembangan Model Keperawatan Kesehatan Jiwa Masyarakat terhadap Kualitas Asuhan Keperawatan Jiwa Masyarakat di Wilayah Puskesmas Kota Bogor. 16. Determinan Faktor Yang Mempengaruhi Nursing Mouth Caries Pada Anak Prasekolah di Pedesaan dan Perkotaan 16. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Tingkat Kepuasan Pelanggan Pelayanan Persalinan Oleh Bidan Di Rumah Bersalin 16. Hubungan Antara Pola Makan Dengan Status Kesehatan Gigi Pada Anak Panti Asuhan Muhamadyah Kecamatan Sumur Bandung 16. Hubungan Karakteristik Ibu Hamil Dengan Pemilihan Tempat Persalinan 16. Pertumbuhan Anak/ Bayi Pada Ibu Pengguna Depot Medroxyprogesteron Acetat 16. Studi Penyisihan dan Perolehan Kembali Merkuri 17. Faktor Resiko yang Mempengaruhi Vital Capacity Paru Masyarakat di Sekitar Pabrik Kapur Padalarang 2005 17. Hubungan Pola Asuhan Dan Karakteristik Bayi Baru Lahir Dengan Kejadian Moniliasis 17. Pengaruh Ekstrak Buah Pala Terhadap Koloni Bakteri Hapusan Stomatitis Apthosa 17. Pengaruh ‘Health Belief Model’ Terhadap Perilaku Kepatuhan Keluarga Pencegahan Demam Berdarah Dengue di Kelurahan Padjajaran Kota Bandung 17. Pengaruh Pemberian Stimulasi Auditory Terhadap Peningkatan Nilai Glascow Coma Scale GCS) Pada Pasien dengan Trauma Kepala di Ruang Bedah Syaraf Perjan Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung 17. Pengolahan Kotoran Kuda dengan Proses Biogas 18. Efektivitas Penggunaan Zoologi Barrier Terhadap Kepadatan Nyamuk Anopheles sundaicus di Wilayah Endemis Malaria 18. Hub. Pengetahuan Dengan Keadaan Depresi Klien Yg Menjalani Program Hemodialisa Di Unit Hemodialisa Kota Bogor 18. Hubungan Pengetahuan dan Sikap Ibu dalam Perawatan Nifas dengan Pencegahan Infeksi Jalan Lahir pada Periode Early Post Partum di RSUD Soreang Kabupaten Bandung 18. Pelemahan Radiasi Gelombang Elektromagnetik Jaringan Transmisi Sutet dengan Menggunakan Filter Aluminium di Pemukiman Penduduk 18. Pengaruh Gel Aloe Vera Terhadap Penyembuhan Luka Pencabutan Gigi Pada Pasien Perawatan Orthodonti 18. Pengaruh Waktu Kontak Penyemprotan Desinfektan Destan Terhadap Angka Total Kuman dan Mycobacterium tuberculosis di Ruang Penderita TB Paru 19. Bioremediasi Cacing Merah Tubifex tubifex) dalam Pengolahan Air Limbah 19. Evaluasi Pelaksanaan Saran Tindak Promotif dan Preventif Oleh Penderita TB Paru Melalui Kegiatan Klinik Sanitasi Puskesmas di Wilayah kerja Puskesmas Cimareme Kabupaten Bandung 19. Faktor -Faktor Yang Berhubungan Dengan Pelaksanaan Dokumentasi Proses Keperawatan 19. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pengambilan Keputusan Keluarga Dalam Menentukan Sarana Perawatan Lanjutan Bagi Anggota Keluarga Yang Mengalami Fraktur di Rumah Sakit Kota Bogor 19. Persespsi Dokter Gigi di Wilayah Kabupaten Bandung Terhadap Kompetensi Tenaga Perawat Gigi 20. Desalinasi Air Payau dengan Proses Reverse Osmosis 20. Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Merawat Balita dengan ISPA dalam Konteks Pelayanan Keperawatan Komunitas di Desa Bojong Kecamatan Kemang Kabupaten Bogor Tahun 2004 20. Hubungan Pengetahuan, Sikap Dan Ketrampilan Perawat Dg Kegiatan Terapi Aktivitas Klp Klien Gg Jiwa Di Rs. Dr H Marzoeki Mahdi Bogor 20. Studi Faktor-Faktor Lingkungan Penderita Flu Burung di Jawa Barat 21. Aplikasi Rotating Biological Contractor RBC) dalam Proses Nitrifikasi Limbah Cair Industri Penyamakan Kulit 21. Faktor-Faktor Yang Berhubungan dengan Motivasi Perawat Dalam Penerapan Asuhan Keperawatan di RSUD Kabupaten Tangerang Tahun 2004 21. Hubungan Persepsi Masyarakat Tentang Penyekit Kusta Dengan Sikap Masyarakat Terhadap Klien Kusta 21. Kinerja Membran Cair Emulsi Dalam Pemisahan dan Perolehan Kembali Cr VI) Dari Air Limbah Elektroplating 22. Faktor Faktor Yang Berhubungan Dengan Ketidakpuasan Klien Terhadap Komunikasi Perawat Di Rsud Kab Tangerang Th.2003 22. Optimasi Terhadap Reduksi Chrom Hexvalen 22. Pengaruh Berbagai Jenis Makrofauna Terhadap Proses Dekomposisi Sampah Organik 22. Perbandingan Efektifitas Bakterisid Ekstrak Cinnamon Aldehyde dengan Piper Betle Terhadap Bakteri Penyebab Halitosis di Rongga Mulut 23. Analisis Faktor-Fakor yang Mempengaruhi Need Lansia Terhadap Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut di Kelurahan Sekeloa Kecamatan Coblong 23. Efektifitas Anaerobic Fixed Bed Reactor AFBR) Terhadap Penurunan Kandungan BOD dan COD Air Limbah Klinik Bersalin 23. Inokulasi Cacing Tanah Lumbricus sp) untuk Memperbaiki Sifat Fisik Kimia Tanah yang Tercemar Leachate 23. Perbedaan Perawat Yang Diberi Penjelasan Dan Tdk Dlm Melaksanakan Komunikasi Efektif Di Ruang Peny. Dalam RSU Tangerang 24. Efektivitas Metode Elektrodialisis dalam Menurunkan Kadar Logam Berat Cr,Cu,Ni) pada Air Limbah Industri Elektroplating di cimahi tahun 2005 24. Pengaruh Konsumsi Buah-Buahan Berserat Tinggi Terhadap Akumulasi Plak Pada Mahasiswa Jurusan Kesehatan Gigi Poltekkes Bandung 24. Pengaruh Pemberian Topikal Aplikasi Dengan Atau Tanpa Fissure Sealant Dalam Mencegah Caries Baru Dalam Mencegah Terjadinya Karies Baru Pada Siswa Sd Di Kota Bdg 24. Penggunaan Jamur Untuk Mereduksi Sampah Rumah Tangga di Tempat Pembuangan Sampah Sementara TPS) 25. Efektifitas Metode Elektrokoagulasi Dengan Berbagai Modifikasi Kuat Arus Untuk Menurunkan Kadar Cu Pada Air Limbah Elektroplating di Cimahi 25. Penerapan Quality Assurance Dalam Rangka Peningkatan Mutu Program Pelayanan Asuhan Kes Gigi Di SD Binaan Jurusan Kesehatan Gigi Poltekkes Bandung 26. Efektivitas Natrium Hipoklorit Naocl) Sebagai Disinfektan Sikat Gigi Di Unit UKGS 26. Uji Toksisitas Konsentrasi Larutan Daun Pandan Wangi Pandanus amaryllifolius Roxb) Terhadap KematianLarva Nyamuk Aedes aegypti 27. Pengaruh Berbagai Ketebalan Media Saring Arang Aktif Batok Kelapa Terhadap Penurunan Zat Warna Limbah Pencelupan Industri Tekstil Kota Bandung 27. Pengaruh Penyuluhan Terhadap Peran Serta Masyarakat Dalam Upaya Pencegahan Penyakit Chikungunya Di Desa Mandalamukti Kec. Cikalong Wetan Kab, Bandung Tahun 2003 28. Faktor- Faktor Resiko Kejadian Tb Paru Di Puskesmas Sukagalih Kec. Sukajadi Kota Bandung 28. Pengaruh Berbagai Ketebalan Saringan Media Batu Apung Dalam Menurunkan Kandungan Zat Organik Dalam Air Tanah 29. Studi Kadar Merkuri Hg) Pada Ikan Yang Hidup di Jaring Apung Waduk Saguling Kabupaten Bandung 29. Studi Perbandingan Prevalensi Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Diperkotaan Dan Di Pedesaan Serta Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya 30. Efektifitas Antara Latihan Relaksasi Imajeri dan Pernafasan dengan Relaksasi Imajeri Terhadap Penurunan Tekanan Darah Lansia Yang Mengalami Hipertensi Ringan dan Sedang di Wilayah Kerja Puskesmas Sarijadi Bandung 30. Hubungan Penyebaran Penyakit Malaria Dengan Kondisi Dan Lingkungan Rumah Penderita Malaria Di Desa Kertajaya Kec. Simpenan Kab. Sukabumi 31. Hubungan Pengetahuan Prilaku Dan Kualitas Air Bersih Dalam Proses Pencucian Peralatan Makan Terhadap Kualitas Bakteriologis Alat Makan Pada Pedagang Makanan Kaki Lima Di Kec. Cimahi Tengah Kota Cimahi 31. Pengolahan Air Limbah Tahu Tempe Dengan Proses Biofilter Anareob – Aerob 32. Aplikasi Control Chart Sebagai Teknik Evaluasi Kualitas Air Sungai Cikapundung Bandung Tahun 2004 32. Tinjauan Tentang Keadaan Indeks Keragaman Hewan Makro Bentos Sebagai Indikator Tingkat Pencemaran Sungai Cikapundung Kota Bandung 33. Studi Evaluasi Kadar Timbal Pb) Dalam Ruangan Parkir Basement Di Bandung Indah Plaza Pembuatan dan Pengujian Antiserum Spesifik dengan Metode Booster Bertingkat Sebagai Alternatif Pengganti Antiserum Spesifik Komersial 10. Studi tentang Perilaku Ibu Hamil Dalam Asuhan Kehamilan Di Kabupaten Lebak tahun 2005 11. Pengaruh Kadar Haemoglobin Ibu Hamil Terhadap Berat Badan Lahir Bayi Di Kec. Warung Gunung Lebak Tahun 2005 12. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pelaksanaan Perawatan Atraumatik Pada Anak Di Rumah Sakit Kota Bogor 13. Hubungan Kehadiran Keluarga dan Kesiapan Perawat dengan tingkat Kecemasan Anak Yang Mendapatkan Therapy Infus Intra Vena Di Rumah Sakit Kota Bogor 14. Pengaruh Refleks hisap oleh Bayi Terhadap Kontraksi dan Involusi Uterus Pada Ibu Postpartum Primipara Di RS Kota Bogor Tahun 2005 15. Analisis Tingkat Kepuasan Kerja Dengan Kinerja Perawat Manajer di Rumah Sakit Dr H.Marzoeki Mahdi Bogor Tahun 2005 16. Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Ibu Hamil Untuk Memeriksakan Kehamilannya Pada Tenaga Kesehatan Di Puskesmas Kabupaten Tangerang Tahun 2005 17. Determinan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Kepuasan Orang Tua di UKGS SD Binaan Jurusan Kesehatan Gigi 18. Pengaruh Pemberian Pasta Casein Phosphopetide-amorphous Calcium PhosphataseCPP-ACP) Secara Topikal Terhadap pH Saliva dan Insidensi Karies Pada Anak Usia Sekolah Dasar 19. Efektifitas Penerapan Model Precede Untuk Meningkatkan Pengetahuan, Pemahaman Dan Keterampilan Murid SD Dalam Upaya Pengendalian Vektor Penyakit Demam Berdarah 2. Faktor Gaya Hidup dan terjadinya Sindrom Metabolik 3. Konsumsi Phytoestrogen dan Sindrom Menopause 4. Analisis Ketahanan Pangan Rumah Tangga dan Individu Serta Dampaknya terhadap Status Gizi Balita di Daerah Miskin Perkotaan di Kota Bandung 5. Pengaruh Pemberian Makanan BerIsoflavon Terhadap Profil Lipid Penderita Hiperkolesterolmia 6. Gambaran Penelusuran Lulusan Program D III Kebidanan Depkes Bandung Politeknik Kesehatan Bandung Periode Tahun 2001-2004 7. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pelaksanaan Sunat Perempuan 8. Faktor Resiko Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Bogor 9. Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Tingkat Kepatuhan Bidan Terhadap Penerapan Standar Asuhan Persalinan Normal APN) Di Kabupaten Karawang Tahun 2005 Pengertian malaria Penyakit malaria adalah penyakit menular yang menyerang dalam bentuk infeksi akut ataupuan kronis. Penyakit ini disebabkan oleh protozoa genus plasmodium bentuk aseksual, yang masuk ke dalam tubuh manusia dan ditularkan oleh nyamuk Anhopeles betina. Istilah malaria diambil dari dua kata bahasa italia yaitu mal = buruk dan area = udara atau udara buruk karena dahulu banyak terdapat di daerah rawa – rawa yang mengeluarkan bau busuk. Penyakit ini juga mempunyai nama lain seperti demam roma, demam rawa, demam tropik, demam pantai, demam charges, demam kura dan paludisme ( Prabowo, 2004 ) Di dunia ini hidup sekitar 400 spesies nyamuk anopheles, tetapi hanya 60 spesies berperan sebagai vektor malaria alami. Di Indonesia, ditemukan 80 spesies nyamuk anopheles tetapi hanya 16 spesies sebagai vektor malaria ( Prabowo, 2004 ). Ciri nyamuk Anopheles. Relatif sulit membedakannya dengan jenis nyamuk lain, kecuali dengan kaca pembesar. Ciri paling menonjol yang bisa dilihat oleh mata telanjang adalah posisi waktu menggigit menungging, terjadi di malam hari, baik di dalam maupun di luar rumah, sesudah menghisap darah nyamuk istirahat di dinding dalam rumah yang gelap, lembab, di bawah meja, tempat tidur atau di bawah dan di belakang lemari(www.Depkes.go.id ) Cara Penularan Malaria Penyakit malaria ditularkan melalui dua cara yaitu secara alamiah dan non alamiah. Penularan secara alamiah adalah melalui gigitan nyamuk anopheles betina yang mengandung parasit malaria (Prabowo, 2004 ). Saat menggigit nyamuk mengeluarkan sporosit yang masuk ke peredaran darah tubuh manusia sampai sel – sel hati manusia. Setelah satu sampai dua minggu digigt, parasit kembali masuk ke dalam darah dan mulai menyerang sel darah merah dan mulai memakan haemoglobin yang membawa oksigen dalam darah. Pecahnya sel darah merah yang terinfeksi plasmodium ini menyebabkan timbulnya gejala demam disertai menggigil dan menyebabkan anemia (Depkes,2003). Nyamuk Anopheles betina yang menggigit orang sehat, maka parasit itu dipindahkan ke tubuh orang sehat dan jadi sakit. Seorang yang sakit dapat menulari 25 orang sehat sekitarnya dalam waktu musim penularan (3 bulan di mana jumlah nyamuk meningkat)(www.Depkes.go.id ) Penularan non-alamiah terjadi jika bukan melalui gigitan nyamuk anopheles. Beberapa penularan malaria secara non alamiah antara lain : malaria bawaan (Kongenital) adalah malaria pada bayi baru lahir yang ibunya menderita malaria.penularannya terjadi karena adanya kelainan pada sawar plasenta (selaput yang melindungi plasenta) sehingga tidak ada penghalang infeksi dari ibu kepada janinnya. Gejala pada bayi baru lahir berupa demam, iritabilitas (mudah terangsang sehingga sering menangis dan rewel), pembesaran hati dan limpa, anemia, tidak mau makan atau minum, serta kuning pada kulit dan selaput lendir. Keadaan ini dibedakan dengan infeksi kongenital lainnya. Pembuktian pasti dilakukan dengan deteksi parasit malaria pada darah bayi. Selain itu Transfusion malaria yakni infeksi malaria yang ditularkan melalui transfusi darah dari donor yang terinfeksi malaria, pemakaian jarum suntik secara bersama- sama pada pecandu narkoba atau melalui transplantasi organ. (Prabowo, 2004) Macam - Macam Malaria Ada 4 jenis penyebab malaria pada manusia antara lain : 1) Plasmodium falcifarum yang sering menjadi malaria cerebral, dengan angka kematian yang tinggi. Infeksi oleh spesies ini menyebabkan parasitemia yang meningkat jauh lebih cepat dibandingkan spesies lain dan merozitnya menginfeksi sel darah merah dari segala umur (baik muda maupun tua). Spesies ini menjadi penyebab 50% malaria di seluruh dunia. 2) Plasmodium vivax . spesies ini cenderung menginfeksi sel – sel darah merah yang muda. (retilkulosit) kira – kira 43% dari kasus malaria di seluruh dunia disebabkan oleh plasmodium vivax. 3) Plasmodium malariae, mempunyai kecenderungan untuk menginfeksi sel – sel darah merah yang tua. 4) Plasmodium ovale. Prediksinya terhadap sel – sel darah merah mirip dengan plasmodium vivax (menginfeksi sel – sel darah muda) (Sutisna, 2004) Ada juga seorang penderita di infeksi lebih dari satu spesies plasmodium secara bersamaan. Hal ini disebut infeksi campuran atau mixed infeksion. Infeksi campuran paling banyak disebabkan oleh dua spesies terutama plasmodium falcifarum dan plasmosium vivax atau plasmodium vivax dan plasmodium malariae. Jarang terjadi infeksi campuran disebabkan oleh plasmodium vivax dan plasmodium malariae. Lebih jarang lagi infeksi campuran oleh tiga spesies sekaligus. Infeksi campuran banyak dijumpai di wilayah yang tingkat penularan malarianya tinggi. Gejala - Gejala Malaria Gejala – gejala penyakit malaria dipengaruhi oleh daya pertahanan tubuh penderita, jenis plasmodium malaria, serta jumlah parasit yang menginfeksinya. Waktu terjadinya infeksi pertama kali disebut masa inkubasi sedangkan waktu diantara terjadinya infeksi sampai ditemukannya parasit malaria dalam darah disebut periode prapaten ditentukan oleh jenis plasmodiumnya. Tabel 1: Periode Prapaten dan Masa Inkubasi Plasmodium Jenis Plasmodium Periode Prapaten Masa Inkubasi P. Falcifarum 11 Hari 9 – 14 Hari P. Vivax 12,2 Hari 12 – 17 Hari P. Malariae 32,7 Hari 18 – 40 Hari P. Ovale 12 Hari 16 – 18 Hari Umumnya gejala yang disebabkan oleh plasmodium falcifarum lebih berat dan dan lebih akut dibandingkan dengan jenis plasmodium lainnya. Gambaran khas dari penyakit malaria adalah adanya demam periodik, pembesaran limpa, dan anemia (Prabowo, 2004). 1) Demam Demam pada malaria ditandai dengan adanya paroksisme yang berhubungan dengan perkembangan parasit malaria dalam sel darah merah. Puncak serangan panas terjadi bersamaan dengan lepasnya merozoit – merozoit ke dalam peredaran darah (proses sporulasi) untuk bebeprapa hari pertama. Serangan demam pada malaria terdiri dari tiga : a) Stadium dingin Stadium ini mulai dengan menggigil dan perasaan sangat dingin. Nadi cepat tetapi lemah. Bibir dan jari –jari pucat kebiru – biruan (sianotik). Kulitnya kering dan pucat penderita mungkin muntah dan pada anak sering terjadi kejang. Periode ini berlangsung selama 15 menit sampai 1 jam b) Stadium demam Pada stadium ini penderita mengalami serangan demam. Muka penderita menjadi merah, kulitnya kering dan dirasakan sangat panas seperti terbakar, sakit kepala bertambah keras, dan sering disertai dengan rasa mual atau muntah – muntah. Nadi penderita menjadi kuat kembali. Biasanya penderita merasa sangat haus dan suhu badan bisa meningkat sampai 41 0C. Stadium ini berlangsung 2- 4 jam. c) Stadium berkeringat Pada stadium ini penderita berkeringat banyak sekali sampai membasahi tempat tidur. Namun, suhu badan pada fase ini turun dengan cepat kadang – kadang sampai dibawah normal. Biasanya penderita tertidur nyenyak dan pada saat terjaga , ia merasa lemah tetapi tanpa gejala. Penderita akan merasa sehat dan dapat melakukan pekerjaan seperti biasa. Tetapi sebenarnya penyakit ini masih bersarang. Stadium inu berlangsung selama 2 - 4 jam. (Prabowo, 2004) 2) Pembesaran Limpa Pembesaran limpa merupakan gejala khas pada malaria kronis atau menahun. Limpa membengkak dan terasa nyeri.limpa membengkak akibat penyumbatan oleh sel – sel darah merah yang mengandung parasit malaria. Lama – lamakonsistensi limpa menjadi keras karena jaringan ikat pada limpa semakin bertambah. Dengan pengobatan yang baik limpa berangsur normal kembali (Prabowo, 2004). 3) Anemia Anemia terjadi disebabkan oleh penghancuran sel darah merah yang berlebihan oleh parasit malaria. Selain itu, anemia timbul akibat gangguan pembentukan sel darah merah di sumsum tulang (Prabowo, 2004). Pengaruh malaria dalam kehamilan 1) Pada ibu Malaria pada ibu hamil dapat menimbulkan belbagai kelainan, tergantung pada tingkat kekebalan seseorang terhadap infeksi parasit malaria dan paritas (jumlah kehamilan). Ibu hamil di daerah endemis yang tidak mempunyai kekebalan dapat menderita klinis berat sampai menyebabkan kematian. Gambaran klinis malaria pada ibu hamil berbeda – beda, mulai dari tidak adanya demam sampai dengan demam yang terus menerus, dari panas sedikit sampai panas sekali. Demam berulang (parokisme) akan lebih sering terjadi dalam separuh masa kehamilan akibat kekebalan yang tertekan (Depkes, 2003). Di daerah endemis tinggi, malaria berat dan kematian ibu hamil jarang di laporkan. Gejala klinis malaria dan insidensitas parasitemia dipengaruhi paritas sehingga akan lebih berat pada primigravida (kehamilan pertama) daripada multigravida (kehamilan selanjutnya). Pada ibu hamil dengan malaria, gejala klinis yang perlu diperhatikan : a) Demam Demam merupakan gejala akut malaria yang lebih sering dilaporkan pada ibu hamil dengan kekebalan rendah atau tanpa kekebalan, terutama pada primigravida. Pada ibu hamil yang multigravida dari daerah endemis tinggi jarang timbul gejala malaria termasuk demam, meskipun parasitemia yang tinggi ( Depkes, 2003). b) Anemia Menurut defenisi WHO, anemia pada kehamilan adalah apabila kadar haemoglobin (Hb) <> 5% sdm terinfeksi) , malaria otak, anemia berat (Hb <> 40 C), edema paru, gagal ginjal, hipiglikemi, syok. Gejala – gejala dan tanda – tanda malaria di atas perlu diperhatikan, karena kasus ini memerlukan penanganan khusus baik untuk keselamatan ibu maupun kelangsungan hidup janinnya. 2) Pada janin Placenta merupakan organ penghubung antara ibu dan janinnya. Fungsi placenta antara lain : a) memberikan makanan ke janin (nutrisi) b) mengeluarkan sisa metabolisme (sekresi) c) memberi O2 dan mengeluarkan CO2 d) membentuk hormon e) mengeluarkan antibodi ke janin Placenta juga berfungsi sebagai ’ barrier ’ (penghalang) terhadap bakteri, parasit, dan virus. Karena itu ibu yang terinfeksi parasit malaria maka parasit akan mengikuti peredaran darah sehingga akan ditemukan pada placenta bagian maternal. Bila terjadi kerusakan pada placenta barulah parasit malaria dapat menembus placenta dan masuk ke sirkulasi darah janin sehingga terjadi malaria kongenital.beberapa peneliti menduga hal ini terjadi katrena adanya kerusakan mekanik, kerusakan patologi oleh parasit, fragilitas dan permeabilitas placenta yang meningkat akibat demam akut dan akibat infeksi kronis Kekebalan ibu berperan menghambat transmisi parasit ke janin. Oleh sebab itu pada ibu – ibu yang tidak kebal atau kekebalannya rendah terjadi transmisi malaria intra uterine ke janin, walaupun mekanisme transplasental dari parasit ini masih belum diketahui. Abortus, kematian janin, bayi lahir mati, dan prematuritas umumnya terjadi Pada malaria berat. Malaria maternal dapat menyebabkan kematian janin karena terganggunya transfer makanan secara transplasental, demam yang tinggi (hiper – pireksia) atau hipoksia karena anemia. Kemungkinan lain adalah Tumor Necrosis Faktor (TNF) yang dikeluarkan oleh makrofag bila di aktivasi oleh antigen, merupakan salah satu faktor yang dapat menimbulkan belbagai kelainan pada malaria antara lain demam, kematian janin, dan abortus. Pada semua daerah, malaria maternal di hubungkan dengan berkurangnya berat badan lahir, terutama pada kelahiran anak pertama. Hal ini mungkin akibat gangguan pertumbuhan intra – uterine, persalinan prematur, atau keduanya. Pertumbuhan lambat intra uterine pada malaria maternal berhubungan dengan malaria placenta dan hal ini disebabkan oleh berkurangnya transfer makanan dan oksigen dari ibu ke janin. Faktor – faktor yang berhubungan dengan kejadian malaria Kemampuan bertahannya penyakit malaria di suatu daerah ditentukan oleh faktor – faktor berikut : a. Faktor penyebab ( Parasit malaria) Penyakit malaria disebabkan oleh parasit malaria, genus plasmodium. Ciri utama genus plasmodium adalah adanya dua siklus hidup, yaitu : 1) Fase seksual Siklus dimulai ketika nyamuk anopheles betina menggigit manusia dan memasukan sporozoit yang terdapat pada air liurnya ke dalam aliran darah manusia. Memasuki sel parenkim hati dan berkembang biak membentuk skizon hati yang mengandung ribuan merozoit, disebut fase skizogoni eksoeritrosit karena parasit belum masuk ke dalam sel darah merah.lama fase ini berbeda untuk setiap spesies plasmodium.pada akhir akhir fase ini, hati pecah, merozoit keluar lalu masuk ke dalam aliran darah. Fase eritrosit dimulai saat merozoit dalam darah menyerang sel darah merah dan membentuk trofozoit. Proses berlanjut menjadi trofozoit – skizon- merozoit. Setelah dua sampai tiga generasi merozoit terbentuk lalu sebagian berubah menjadi bentuk seksual 2) Fase aseksual Saat nyamuk anopheles betina mengisap darah manusia yang mengandung parasit malaria, parasit bentuk seksual masuk ke dalam perut nyamuk. Selanjutnya menjadi mikrogametosit dan makrogametosit dan terjadilah pembuahan yang disebut zigot (ookinet) yang kemudian menembus dinding lambung nyamuk dan menjadi ookista. Jika ookista pecah ribuan sporozoit dilepaskan dan mencapaikelenjar air liur nyamuk dan siap ditularkan jika nyamuk menggigit tubuh manusia (Prabowo. 2004 ) b. Faktor inang Penyakit malaria mempunyai dua inang antara lain : 1) Manusia (intermediate host) Faktor yang mempengaruhi antara lain : jenis kelamin (pada ibu hamil akan menyebabkan anemia yang lebih berat) imunitas, penghasilan, perumahan, pemakaian kelambu, dan obat anti nyamuk. 2) Nyamuk anopheles (defenitife host) Nyamuk anopheles betina sebagai vektor penyebab menularnya penyakit malaria. Nyamuk ini membutuhkan genangan air yang tidak mengalir atau yang mengalir perlahan untuk meletakkan telur – telur nya, sebaga tempat untuk berkembang biak. Biasanya aktif mencari darah pada malam hari , ada yang mulai senja sampai tengah malam, ada juga yang mulai tengah malam sampai menjelang pagi hari (Depkes, 1999). Jarak terbangnya tidak lebih dari 0,5 – 3 Km dari tempat perindukan. Umur nyamuk anopheles dewasa di alam bebas belum diketahui tetapi di laboratorium dapat mencapai 3 – 5 minggu. (Prabowo. 2004 ) c. Faktor lingkungan ( Enviroment ) 1) Fisik Suhu sangat mempengaruhi panjang pendeknya siklus atau masa inkubasi ekstrinsik. Makin tinggi suhu, makin panjang masa ekstrinsiknya. Hujan yang berselang dengan panas berhubungan langsung dengan perkembangan larva nyamuk (Depkes, 1999) Air hujan yang menimbulkan genangan air merupakan tempat yang ideal untuk perindukan nyamuk malaria. Dengan bertambahnya tempat perindukan , populasi nyamuk malaria bertambah sehinggah bertambah pula jumlah penularannya. (Prabowo. 2004 ) Kelembaban yang rendah akan memperpendek umur nyamuk, meskipun tidak berpengaruh pada parasit. Tingkat kelembapan 60 % merupakan batas paling rendah yang memungkinkan untuk nyamuk hidup. Pada kelembapan yang lebih tinggi nyamuk menjadi lebih aktif dan lebih sering menggigit sehingga meningkatkan penularan malaria ( Harijanto, 2000 ) Pengaruh sinar matahari terhadap pertumbuhan larva nyamuk berbeda – beda. Ada yang menyukai tempat terbuka dan ada yang hidup di tempat yang teduh maupun di tempat yang terang. 2) Biologi Tumbuhan semak, sawah yang berteras, pohon bakau, lumut, ganggang merupakan tempat perindukan dan tempat – tempat peristirahatan nyamuk yang baik. Adanya belbagai jenis ikan pemakan larva seperti ikan kepala timah, gambus, nila, mujair mempengaruhi populasi nyamuk di suatu daerah (Depkes, 1999) 3) Sosial budaya Tingkat kesadaran masyarakat tentang bahaya malaria akan mempengaruhi kesadaran masyarakat memberantas malaria Pelayanan kesehatan pada ibu hamil dengan malaria. Adapun upaya pencegahan dan pengobatan malaria selama kehamilan antara lain : a. Asuhan Ante Natal Care (ANC) Asuhan ante Natal Care adalah asuhan yang di terima oleh ibu hamil dalam kehamilanya, membantu menjamin bahwa ibu dan bayi berada dalam keadaan sehat selama kehamilan dan persalinan. Pendekatan tradisional ANC mengasumsikan bahwa semakin banyak kunjungan semakin baik. Asuhan bagi ibu hamil pendekatan sekarang menekankan pada kualitas kunjungan dibandingkan kuantitas kunjungan. Peran bidan dalam upaya pencegahan dan pengobatan malaria dalam kewenangan dan tanggung jawabnya pada setiap ANC adalah pengobatan dan evaluasi hasil pengobatan, tidak mengesampingkan pemberian promosi kesehatan atau pendidikan kesehatan. (Depkes, 2003) Menyampaikan pada ibu hamil yang menderita malaria bahwa selama kehamilan akan meningkatkan angka Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), anemia bila tidak pernah mendapatkan pencegahan dan pengobatan malaria secara benar. Di daerah endemis malaria penapisan untuk tanda dan gejala malaria merupakan bagian rutin dari ANC. Diagnosa biasanya berdasarkan demam yang berhubungan dengan tempat tinggal ibu dan disertai tanda dan gejala. b. Skrining terhadap malaria Pada kegiatan ANC dilakukan anamnesis terarah untuk mengidentifikasi penyakit malaria. Setiap ibu hamil yang tinggal di daerah endemik yang menunjukan demam harus dicurigai terkena malaria. Melakukan pemeriksaan fisik berdasarkan informasi yang didapat seperti keadaan umum, tanda – tanda vital, tanda – tanda anemia, tanda – tanda dehidrasi, serta melakukan pemeriksaan abdomen untuk menentukan umur kehamilan dan perkembangan janin apakah sesuai dengan umur kehamilan . Setelah itu dilakukan uji laboratorium untuk mengetahui kadar haemoglobin dan status malarianya. (JNPK-KR, 2006) c. Pengobatan Malaria dalam Kehamilan Bila hasil pemeriksaannya positif maka berikan pengobatan malaria menggunakan obat anti malaria KLOROQUIN dengan dosis @ 250 mg. Adapun aturan pemakaiannya : - Hari pertama : 4 tablet - Hari kedua. : 4 tablet - Hari ketiga : 2 tablet Setelah hari ketiga ibu tersebut datang kembali untuk melakukan uji laboratorium terhadap penyakit malarianya. (JNPK-KR,2006) a.Kerja klorokuin ini adalah : 1) sizon darah: sangat efektif terhadap semua jenis parasit malaria dengan menekan gejala klinis dan menyembuhkan secara klinis dan radikal; obat pilihan terhadap serangan akut, demam hilang dalam 24 jam dan parasitemia hilang dalam 48-72 jam; bila penyembuhan lambat dapat dicurigai terjadi resistensi (gagal obat); terhadap p. falciparum yang resisten klorokuin masih dapat mencegah kematian dan mengurangi penderitaan 2) Gametosit: tidak evektif terhadap gamet dewasa tetapi masih efektif terhadap gamet muda b. Farmokodinamikanya: 1) Menghambat sintesa enzim parasit membentuk DNA dan RDA 2) Obat bersenyawa dengan DNA sehingga proses pembelahan dan pembentukan RNA terganggu c. Toksisitasnya: 1) Dosis toksis: 1500 mg basa (dewasa) 2) Dosis lethal: 2000 mg basa (dewasa) atau 1000 mg basa pada anak-anak atau lebih besar/sama dengan 30 mg basa/kg BB d. Efek sampingnya: 1) Gangguan gastro-intestinal seperti mual, muntah, diare terutama bila perut dalam keadaan kosong 2) Pandangan kabur 3) Sakit kepala, pusing (vertigo) 4) Gangguan pendengaran Formulasi obat : 1) Tablet (tidak berlapis gula): Klorokuin difosfat 150 mg basa setara dengan 250 mg berntuk garam dan Klorokuin sulfat 150 mg basa setara dengan 204 mg garam. 2) Ampul: 1 ml berisi 100 ml basa klorokuin disulfat per ampul dan 2 ml berisi 200 ml basa klorokuin disulfat per ampul. d. Kemoterapi Kemoterapi tergantung pada diagnosis dini dan pengobatan klinis segera kecuali pada wanita yang tidak kebal , efektifitas kemoterapi pada wanita hamil tampak kurang rapi karena pada wanita imun infeksi dapat berlangsung tanpa gejala. Pada wanita dengan kekebalan rendah, walaupun diagnosa dini dan pengobatan segera ternyata belum dapat mencegah perkemb angan anemia pada ibu dan juga berkurangnya berat badan lahir bayi. e. Mengurangi kontak dengan vector Mengurangi kontak dengan vektor seperti insektisida, pemakaian kelambu yang di celup dengan insektisida, mengurangi prevalensi parasitemia, khususnya densitas tinggi, insiden klinis dan mortalitas malaria. f. vaksinasi Target vaksin malaria antara lain mengidentifikasi antigen protektif pada ketiga permukaan stadium parasit malaria yang terdiri dari sporozoit, merozoit, dan gametosit. Kemungkinan penggunaan vaksin yang efektif selama kehamilan baru muncul dan perlu pertimbangan yang kompleks. Tiga hal yang perlu dipertimbangkan dalam penggunaan vaksin untuk mencegah malaria selama kehamilan yaitu ; 1) Tingkat imunitas sebelum kehamilan 2) Tahap siklus hidup parasit 3) Waktu pemberian vaksin Sampai saat ini belum ditemukan vaksin yang aman dan efektif untuk penanggulangan malaria.
Website Builder