MITRA RISET
Statistic & Research
Konsultan Analisis Data KTI Skripsi Tesis Disertasi

Akseptor KB



MITRA RISET telah membantu Riset Mahasiswa dan Dosen sejak tahun 2002
Call: 0274-6411658  SMS: 0856 28 98968

SEARCH ENGINE UNTUK CARI FILE

Loading

Akseptor KB



Pengertian Akseptor KB

Keluarga Berencana merupakan suatu upaya untuk mengatur jumlah penduduk. Menurut Hartanto (2003) Keluarga Berencana adalah penggunaan cara-cara pengatur fertilisasi untuk membantu seseorang atau keluarga mencapai tujuan tertentu. Tujuan yang dimaksud disini adalah suatu pengaturan kehamilan secara sengaja oleh keluarga tersebut, yang tidak melawan hukum atau perundang-undang yang berlaku dan juga moral pancasila dan untuk kesejahteraan keluarga. Tujuan umum pelayanan medik keluarga berencana adalah untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak serta keluarga dalam rangka mewujudkan NKKBS. Untuk mencapai keberhasilan pelayanan keluarga berencana tersebut perlu didukung oleh anggota masyarakat sebagai pendukung gerakan keluarga berencana dengan berpartisipasi secara aktif sebagai peserta KB atau akseptor KB. Akseptor KB adalah anggota masyarakat yang mengikuti gerakan KB dengan melaksanakan penggunaan alat kontrasepsi. Akseptor KB menurut sasarannya terbagi menjadi tiga fase yaitu fase menunda atau mencegah kehamilan, fase penjarangan kehamilan dan fase menghentikan atau mengakhiri kehamilan atau kesuburan. Akseptor KB lebih disarankan untuk Pasangan Usia Subur (PUS) dengan menggunakan alat kontrasepsi. Karena pada pasangan usia subur inilah yang lebih berpeluang besar untuk menghasilkan keturunan dan dapat meningkatkan angka kelahiran. b. Macam-macam Akseptor KB Akseptor keluarga berencana yang diikuti oleh pasangan usia subur dapat dibagi menjadi tiga macam : 1) Akseptor atau peserta KB baru, yaitu Pasangan Usia Subur yang pertama kali menggunakan kontrasepsi setelah mengalami kehamilan yang berakhir dengan keguguran atau persalinan. 2) Akseptor atau peserta KB lama, yaitu peserta yang masih menggunakan kontrasepsi tanpa diselingi kehamilan. 3) Akseptor atau peserta KB ganti cara, yaitu peserta KB yang ganti pemakaian dari suatu metode kontrasepsi ke metode kontrasepsi lainnya. Kontrasepsi Suntik Depoprogestin Pengertian Kontrasepsi berasal dari kata kontra berarti mencegah atau melawan, sedangkan kontrasepsi adalah pertemuan antara sel sperma (sel pria) yang mengakibatkan kehamilan. Maksud dari kontrasepsi adalah menghindari atau mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan antara sel telur yang matang dengan sel sperma tersebut (Manuaba, 1998). Kontrasepsi adalah usaha-usaha mencegah terjadinya kehamilan. Usaha-usaha itu dapat bersifat sementara,dapat juga bersifat permanen. Menurut Wiknjosastro (2002) kontrasepsi depoprogestin ialah suatu sintesa progestin yang mempunyai efek seperti progesteron asli dari tubuh wanita. Depoprogestin dibuat dalam bentuk suspensi air dosis yang lazim dipakai adalah 150 mg diberikan secara suntikan intramuskuler setiap tiga bulan (Anwar,2001).

b.Mekanisme kerja kontrasepsi depoprogestin

Pemberian suntikan depoprogestin akan menyebabkan pengentalan mukus serviks sehingga menurunkan kemampuan penetrasi sperma. Hormon tersebut juga mencegah pelepasan sel telur yang dikeluarkan tubuh wanita, tanpa pelepasan sel telur seorang wanita tidak mungkin hamil. Selain itu pada penggunaan depoprogestin, endometrium menjadi tipis dan atrofi dengan berkurangnya aktifitas kelenjar (Juwono, 1996). c. Efektifitas Kontrasepsi suntik adalah kontrasepsi sementara yang paling baik dengan angka kegagalan kurang dari 0,1% kegagalan dari 100 wanita pertahun (acuan KB Nasianal). d. Keuntungan kontrasepsi depoprogestin Kontrasepsi depoprogestin sangat efektif yakni mencapai lebih dari 99%. Penelitian yang dilakukan di Daerah Istimewa Yogyakarata tahun 1992 menunjukkan angka kegagalan kontrasepsi depoprogestin adalah empat dari 500 akseptor atau hanya 0,8 per 100 tahun wanita. Karena tidak mengandung estrogen, maka efek samping yang berhubungan dengan estrogen seperti penyakit kardiovaskuler, troboemboli dan lain-lain lebih kecil. Suntikan depoprogestin dirasakan lebih praktis karena hanya memerlukan suntikan setip tiga bulan. Obat ini bisa dipakai untuk wanita yang relatif tua. (>35 tahun) tanpa khawatir resiko efek samping estrogen. Yang penting lagi adalah suntikan depoprogestin dapat diberikan pada wanita yang sedang menyusui. Bahkan banyak bukti yang menyatakan bahwa depoprogestin dapat menaikkan volume Air Susu Ibu (ASI) dan memperpanjang masa laktasi. Selain itu pada penggunaan depoprogestin, return of fertilitynya (kembalinya kesuburan) cukup baik. Waktu rata-rata untuk kembali hamil yaitu 5,5 bulan setelah penyuntikan. Suntikan depoprogestin ini sangat berguna untuk klien yang tidak ingin hamil lagi tetapi belum ingin steril (Manuaba, 1998). e. Efek samping kontrasepsi depoprogestin Keluahan terbanyak para pemakai suntikan depoprogestin adalah gangguan perdarahan, baik berupa bercak, amenorea, dan haid tidak teratur. Kenaikan berat badan juga merupakan salah satu efek samping yang sering dikeluhkan para akseptor. Beberapa wanita juga mengeluh timbulnya jerawat di wajah, rambut rontok, pusing, dan sakit kepala, mual dan muntah, perubahan tekanan darah, gelisah dan susah tidur (Prawirohardjo, 2003). f. Indikasi Suntikan depoprogestin diberikan kepada wanita yang menginginkan kontrasepsi jangka panjang atau wanita yang telah mempunyai cukup anak tetapi ia enggan atau tidak bisa untuk dilakukan sterilisasi. Depoprogestin juga diberikan kepada wanita yang mempunyai kontraindikasi terhadap estrogen. Selain itu juga dapat diberikan kepada ibu yang menyusui karena progestin tidak mengganggu laktasi. Depoprogestin juga dianjurkan pada ibu yang mendekati menopause karena tidak mengandung estrogen (Hartanto, 2002).

g.Kontraindikasi

Kontraindikasi pemakaian suntik depoprogestin adalah kehamilan, penyakit hati aktif, tumor hati, penyakit kuning, (ikterus), hipertensi (lebih dari 160/90 mmHg). Kelainan tromboembolik, penyakit kardiovaskuler, perdarahan vagina yang tidak diketahui sebabnya, tumor (massa) payudara, kanker genital, diabetes dan hiperlipidemia konginetal. Pada wanita yang menderita migran, sakit kepala yang berat, epilepsi atau depresi pemakain kontrasepsi depoprogestin harus diawasi dengan sangat ketat (Anwar, 2001). h.Penatalaksanaan efek samping kontrasepsi depoprogestin Pada pemakaian alat kontrasepsi sering di dapatkan efek samping. Penatalaksanaan efek samping disesuaikan dengan jenis dan penyebabnya 1) Amenorea (tidak keluar darah haid) Penyebabnya : karena kontrasepsi progestin menimbulkan perubahan histologi pada endometrium sampai pada atrofi endometrium. Penanggulangan : a) Bila tidak menimbulkan kegelisahan dan akseptor dapat menerima dan mengerti bahwa amenorea merupakan ciri khas KB suntik bukan karena kehamilan dan tidak perlu pengobatan. b) Bila menimbulkan kegelisahan dianjurkan untuk ke tenaga kesehatan yang akan diberi pengobatan dengan preparat estrogen atau progesteron. 2) Spotting atau perdarahan berupa bercak tidak menentu Gangguan ini sering terjadi ditanggulangi dengan pemberian preparat estrogen atau progesteron atau pil kombinasi. Diberikan juga roboransia dan motivasi untuk perbaikan gizi. Bila tidak berhenti juga setelah pengobatan sebaiknya akseptor dianjurkan untuk ganti cara. 3) Kenaikan berat badan Pemakain KB suntik depoprogestin paling sering menyebabkan efek kenaikan berat badan. Kenaikan sangat berfariasi, rata-rata tiap tahun naik antara 2,3-2,9 kg. penyebabnya belum jelas dimungkinkan karena hormon progesteron mempermudah perubahan karbohidrat dan gula menjadi lemak sehingga lemak dibawah kulit bertambah selain itu juga hormon progesteron menyebabkan nafsu makan meningkat dan menurunkan aktivitas. Penanggulangannya : jumlah porsi makan dikurangi dengan diet, bila dengan cara diet tidak menolong dan berat badan terus bertambah akseptor dianjurkan untuk ganti alat kontrasepsi lain. 4) Rambut rontok Gejala ini dapat di dapatkan sesudah pemakaina atau selama pemakaian. Penanggulangan : diberi penjelasan bahwa hal itu merupakan efek dari kontrasepsi suntik dan gejala itu akan hilang dan kembali normal tanpa pengobatan setelah penghentian suntikan. 5) Pusing, sakit kepala, mual, muntah, gelisah Merupakan keluhan subyektif yang sering muncul pada pemakaian alat kontraepsi suntik depoprogestin. Penyebabnya : karena reaksi tubuh terhadap progesteron. Penanggulangan : dijelaskan bahwa keluhan tersebut bersifat sementara dan akan hilang dalam 3 bulan setelah penyuntikan. 6) Acne atau jerawat Jerawat yang paling sering muncul di daerah wajah. Penyebabnya: progestin terutama 19-norprogestin menyebabkan peningkatan kadar lemak.

Website Builder