Tuesday, September 29, 2015

Analisis AHP dengan EXPERT CHOICE

Download Expert Choice


DOWNLOAD SOFTWARE EXPERT CHOICE 9.0 FULLVERSION

DISK 1
DISK 2
DISK 3
DISK 4
DISK 5




Prinsip Kerja Analytical Hierarchy Process
Analytical Hierarchy Process (AHP) merupakan metode pengambilan keputusan, yang peralatan utamanya adalah sebuah hirarki. Dengan hirarki, suatu masalah yang kompleks dan tidak terstruktur dipecah, dikelompokkan dan diatur menjadi suatu bentuk hirarki. Data utama model AHP adalah persepsi manusia yang dianggap expert. Kriteria expert di sini bukan berarti jenius, pintar atau bergelar doktor tetapi lebih mengacu pada orang yang mengerti benar permasalahannya (Joesoef, 2002).
Skala ukuran seperti tinggi badan (meter), intelektual (stara pendidikan), kekayaan (rupiah) sangat dikenal dan digunakan sehari-hari. Skala-skala ini bersifat kuantitatif. Pengukuran yang bersifat kuantitatif dengan mudah dapat merefleksikan magnitude elemen. Namun skala tersebut tidak mencerminkan perasaan atau preferensi terhadap elemen yang bersifat intangible, seperti keadilan, demokrasi, kemiskinan, kemampuan kerjasama, dll. Oleh karena itu perlu skala yang luwes yang mempu mencerminkan preferensi kita dan sekaligus berlaku untuk semua elemen yang tangible maupun intagible. AHP mampu menjembatani dua macam elemen ini.
Agar berguna untuk mendekati kriteria yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif, AHP berprinsip bahwa perasaan, intuisi, penginderaan, dan pengalaman seseorang minimal sama nilainya dengan data yang digunakan. Dengan memasukkan fungsi psikologis AHP dapat menutupi kelemahan utama metode pengambilan keputusan yang selama ini ada.
Untuk sampai pada pemahaman logis, harus dicermati empat aksioma berikut (Saaty, 1986 dalam Joesoef, 2002):
1.    Reciprocity
Pengambil keputusan harus mampu menyatakan preferensinya. Preferensi harus memenuhi syarat resiprokal, yaitu bila  A1¬ lebih disukai dari A2 dengan skala w, maka A2 lebih disukai dari A1¬ dengan skala 1/w.
2.    Homogenity
Elemen-elemen dalam hairarki harus dapat dibandingkan satu sama lain dengan skala terbatas. Kalau ini tidak terpenuhi maka diperlukan agregasi terhadap elemen-elemen yang relatif homogen.
3.    Dependence
Preferensi dinyatakan dengan asumsi bahwa kriteria tidak dipengaruhi alternatif kriteria yang lain, selain alternatif elemen dibawah suatu kriteria. Atau, perbandingan elemen-elemen dalam suatu level dipengaruhi atau tergantung elemen-elemen dalam level diatasnya. Ini berarti ketergantungan dalam AHP adalah selaras ke atas bukan ke samping.
4.    Expectation
Untuk tujuan pengambilan keputusan, struktur hirarki AHP diasumsikan lengkap. Jika ini tidak dipenuhi, maka pengambilan keputusan tidak memakai seluruh kriteria atau pilihan yang tersedia, akibatnya keputusan menjadi kurang memuaskan.
Disamping empat aksioma diatas, ada empat prinsip kerja AHP yaitu: decomposition, comparative judgement, synthesis of priority, dan logical consistency (Joesoef, 2002).
Decomposition adalah proses penguaraian masalah atau variabel menjadi beberapa elemen sampai tidak dapat diuraikan lagi. Dari proses penguraian ini kita memperoleh satu angka atau beberapa level dalam hirarki. Itu sebabnya metode ini dinamakan hirarki. Hirarki dikatakan lengkap bila semua elemen dalam suatu level berhubungan dengan semua level yang berada pada level berikutnya. Jika tidak demikian maka disebut hirarki yang tidak lengkap.
Comparative judgement merupakan proses penilaian kepentingan atau kesukaan relatif terhadap elemen berpasangan (pairwise) dalam suatu level berhubungan dengan level di atasnya. Penilaian ini adalah inti dari AHP, sehingga kita memperoleh prioritas elemen dalam suatu level.


Pemilihan skala 1 sampai 9 didasarkan pada penelitian psikologis, pendapat pemakai AHP, perbandingan skala lain dan kemampuan otak manusia dalam menyuarakan urutan preferensinya (Harker dan Vargas, 1987 dalam Joesoef, 2002). Skala terkecil adalah 1, untuk menyatakan bahwa kedua elemen yang dibandingkan sama pentingnya (sama-sama disukai atau tidak disukai). Agar diperoleh judgement yang bermanfaat dan dapat dipertanggungjawabkan, AHP menghendaki penilaian dari expert, yaitu mereka yang mempunyai pengertian menyeluruh terhadap permasalahan.
Synthesis of priority adalah proses penentuan prioritas elemen-elemen dalam suatu level. Setelah diperoleh skala pebandingan antar dua elemen melalui wawancara, kemudian dicari vektor prioritas (eigenvector) dari suatu level hirarki. Proses penentuan eigenvector mensyaratkan matriks yang non-negatif dan tidak ada angka nol. Dengan skala 1 sampai 9, syarat ini dapat terpenuhi karena 1/9 adalah nilai elemen terkecil dan 9 terbesar.
Logical Consistency dapat dianggap sebagai prinsip rasionalitas AHP. Ada tiga makna yang terkandung dalam konsep konsistensi. Pertama obyek-obyek yang serupa atau sejenis dikelompokkan sesuai dengan relevansinya. Contohnya bola dan jeruk dikelompokkan menjadi satu bila bulat kriterianya dan tidak dapat dikelompokkan bila kriterianya adalah rasa. Kedua, matriks perbandingan bersifat resiprokal, artinya jika A1 adalah lebih penting dari A2, maka A2 adalah setengah kali lebih penting dari A1.
Ketiga, hubungan antar dua elemen diupayakan bersifat transitif. Contohnya, jika sepakbola dinilai dua kali lebih menarik dibanding basket dan basket tiga kali lebih menarik dibanding tinju, maka sepak bola harus dinilai enam kali lebih menarik dibanding tinju. Bila tidak demikian, ini berarti terjadi intransitivitas. Jadi, rasionalitas yang dimaksud AHP bukan sekedar transitivitas.
AHP tidak menuntut konsistensi atau transitif sempurna. Ini sama sekali berbeda dengan Arrow’s Impossibility Theorem dalam khasanah welfare economics. Teori ini menganggap bahwa pelanggaran terhadap konsistensi adalah pelanggaran fatal. Sebaliknya, AHP memaklumi inkonsistensi manusia, karena gejala ini bersifat natural. Sungguhpun demikian, AHP mensyaratkan inkonsistensi tidak lebih dari sepuluh persen.
AHP mengukur konsistensi dengan consistency ratio (CR). Mula-mula hitung dulu consistency index (CI), yang menggambarkan deviasi preferensi dari konsistensinya:


Dimana n adalah jumlah elemen yang hendak dibandingkan, dan  adalah eigenvelue terbesar. Kemudian hitung CR, yaitu CI dibagi dengan random index (RI) Untuk memperoleh eigenvalue dengan mengalikan matriks dengan eigenvector; kemudian hasilnya dibagi eigenvector.

Indeks random (RI) adalah indeks konsistensi (CI) matriks resiprokal yang dibentuk secara random. Indeks ini disusun setelah melalui eksperimen terhadap 100 sampel dengan matriks orde 1 hingga 15, dengan hipotesis bahwa RI  meningkat searah dengan besarnya orde matriks.
Nilai CR ini diusahakan tidak lebih dari sepuluh persen. Pelanggaran serius terhadap konsistensi akan menjurus pada pengambilan keputusan yang keliru. Inkonsistensi yang tinggi harus diobati. Prosedur yang paling mudah untuk mengatasi inkonsistensi adalah dengan melakukan revisi terhadap judgement. Namun demikian, revisi berlebihan dalam rangka memperoleh tingkat konsistensi tinggi, bisa sangat menjauhkan estimasi dari realitas.

Penentuan Produk dengan AHP
Bagaimana AHP diterapkan pada proses penentuan suatu produk? Dibawah ini akan diuraikan penerapan AHP dalam kasus penentuan produk rokok. Metode AHP adalah prosedur pengambilan keputusan, yang dirancang untuk menangkap persepsi orang atau sekelompok orang yang berhubungan erat dengan permasalahan tertentu melalui prosedur yang dibuat untuk sampai kepada suatu skala preferensi. Metode ini memungkinkan penyusunan permasalahan yang tidak tersttruktur kedalam sebuah urutan hirarki, kemudian diberikan nilai dalam bentuk angka skala preferensi yang menunjukkan relatif pentingnya satu elemen terhadap elemen yang lain. Untuk sampai pada hasil akhir, penilaian tersebut kemudian disintesiskan guna menentukan elemen/ variabel mana yang mempunyai prioritas tinggi.
Dalam proses produksi, menajemen perusahaan tentu dipastikan memiliki berbagai alternatif racikan rokok dan dibingungkan dengan pertanyaan ” Racikan mana yang harus diproduksi?” Penentuan produk oleh orang-orang dalam pabrik memang perlu. Namun perlu diwaspadai bahwa alpha testing semacam ini tanpa didukung oleh beta testing, yakni penentuan produk oleh orang-orang dari luar pabrik (Kotler, 2000: 346) bisa menghasilkan kesimpulan yang keliru (bias). Kekeliruan ini bisa jadi disebabkan antara lain:
1)    Laboratorium pabrik sudah terbiasa dengan kekhasan (special characteristics) produk-produk pabriknya.
2)    Karyawan pabrik merasa terikat dengan nama pabrik (brand awareness).
3)    Adanya efek organisasi, artinya hasil penilaian (judgement) terhadap produk bisa dipengaruhi oleh beberapa anggota organisasi yang mempunyai kepentingan dan otoritas tertentu.
Pentingnya uji ini banyak diyakini oleh produsen, mengingat bahwa produsen rokok sering menghadapi bahwa produknya bersifat perfect substitute dengan beberapa merek rokok lain. Ini berarti ketika konsumen merasa bahwa erek rokok yang dihisapnya tidak memenuhi preferensinya (tidak pas dengan seleranya), maka segera ia switch ke merek rokok lain yang sekelas. Sehingga, dalam rangka memelihara brand loyalty konsumen, menciptakan dan memilih racikan rokok yang pas dengan preferensi konsumen merupakan kegiatan yang mutlak harus dilakukan. Dengan demikian, permasalahan yang bisa dimunculkan disini adalah, bagaimanakah preferensi konsumen (perokok) terhadap beberapa alternatif racikan rokok, sehubungan dengan kriteria-kriteria keringanan, keharuman, kegurihan dan kehalusan?
Dalam contoh berikut, partisipasi diperintahkan memberikan judgement tentang beberapa alternatif racikan rokok. Mereka tidak diperintahkan untuk membubuhkan nilai kardinal atau nilai ordinal kepada beberapa alternatif, akan tetapi mereka diperintahkan untuk melakukan perbandingan antar dua elemen (pairwise comparison) melalui prosedur analitycal hierarcy process (AHP) yang diuraikan diatas. Sebelum dilakukan perbandingan antar dua elemen, kompleksitas permasalahan (melalui pre-meeting tentunya) dirangkai menjadi sebuah hirarki.
Apabila disepakati bahwa kriteria memilih merokok adalah keringanan (A), keharuman (B), kegurihan (C) dan kehalusan (D) sementara perusahaan rokok , misalnya sedang mempertimbangkan racikan X, Y dan Z, maka model AHP permasalah ini adalah:

Gambar 2.2. Analytical Hierarchy Process (AHP)


Dimana A, B, C, dan D masing-masing adalah keringanan, keharuman, kegurihan dan kehalusan; dan X, Y dan Z masing-masing adalah jenis racikan yang berbeda.




KAMI MENYEDIAKAN ANALISIS DATA DENGAN AHP
Location: Yogyakarta, Yogyakarta City, Special Region of Yogyakarta, Indonesia